Rabu, 19 Desember 2012

Prof Dr Hiromi Shinya - The Miracle of Enzyme


Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu
kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak
anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi
perilaku yang alami seperti itu?

”Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr
Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban
Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama.
Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk
manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak
sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia,
katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi
penyebab osteoporosis?  Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika
masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi
dengan enzim yang diproduksi mulut kita.

Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat.
Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali
dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan ”enzim
induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk
pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk
terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih
mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di
dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di
usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia
sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa
keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia
memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama kariernya sebagai dokter
terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian.
Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan
dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti
yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu
antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan
makanan/minuman yang ”jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak
hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ
berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang
makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata,
kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan
kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya
kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya,
pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal
bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan
yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di
dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan
penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia
hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang
masuk ke perut.


Sumber : www.indomp3z.us

0 komentar: