Seseorang
yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, seringkali menghasilkan pemikiran
atau gagasan luar biasa, aneh, dan terkadang diangggap tidak rasional. Bahkan,
karena keluarbiasaan itu, tidak sedikit orang kreatif dianggap “gila”. Kesamaan orang kreatif dengan
orang gila adalah cara berpikirnya yang tidak konvensional. Bedanya, orang
kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau
pemecahan masalah. Sementara orang gila tidak.
Berani
menciptakan sesuatu yang tidak modis pada zamannya merupakan sesuatu yang
salah. Vivienne Westwood dan Malcolm Mclaren membuka took pakaian
bergaya tahun tiga puluhan. Ternyata tidak ada orang yang mau memakai atau
membelinya. Namun semangat dan keberaniannya membuat Westwood menjadi desainer yang dikagumi dan McLaren mendirikan Sex Pistols.
Saat George Eastman memilih nama ‘Kodak’ untuk perusahaan fotografinya,
nama itu tidak ada artinya. Padahal member nama untuk produk serius tidak boleh
sembarangan. Eastman tak tahu arti
Kodak. Dia hanya ingin nama yang singkat agar orang tak salah eja dan tak
diasosiasikan dengan yang lain.
Woody Norris (1988) pengelola American Technology Corporation, mimpi
membuat system audio yang tidak memerlukan speaker.
Dia menganalogikan dunia seni lukis yang mencampur dua suata yang tidak
terdengar. Awalnya ide ini gagal. Tujuh tahun kemudian, ia berhasil menciptakan
system HyperSonic Sound (HSS) yang menerjemahkan suara dari CD ke
gelombang-gelombang ultrasonic.
John Vaught dari HP ,memakai analogi
untuk menghasilkan printer inkjet yang
lebih efisien dan afektf. Pada tahun 1979, Vaught
tertarik dengan cara kerja mesin pembuat koi otomatis. Sambil mengamati betapa
cepatnya alat tersebut memanaskan air, ia berpikir apakah prinsip ini bisa di
gunakan untuk memanaskan tinta printer. Ternyata bisa.
Shouthwest Airlines belajar cara
mengurangi waktu berhenti pesawatnya dengan melihat kegiatan tim balap mobil di
pit stop. Motorola belajar dari
Domino’s Pizza untuk mengurangi waktu produksinya. Banyak hal lagi contoh lain
bagaimana benchmarking di industry
yang berbeda mampu menghasilkan ide-ide kreatif yang jarang terpikirkan
sebelumnya. Tentu saja,
analogi yang paling sering di pakai adalah dengan meniru solusi dari alam.
Bertrand Russel (Gilhooly, 1982)
menyatakan bahwa proses berpikir kreatif lebih bersifat instingtif, sama halnya
dengan proses pencernaan. Ketika berhadapan dengan persoalan, ia mencari
informasi yang relevan lalu persoalan tersebut ditinggalkannya untuk mengurus
persoalan lain. Sejalan dengan bergulirnya waktu, dan dengan keberuntungan, dia
menemukan jawaban atas persoalannya.
Tidak
sedikit para pemikir yang berpandangan sama dengan Russel. Namun tentu saja orang tak akan pernah berhenti untuk
mencari keteraturan atau pola-pola yang mungkin dilalui seseorang dalam proses
berpikir kreatif. Diharapkan di kemudian hari
keterampilan berpikir kreatif dapat di kembangkan secara rasional tanpa
menunggu datangnya augerah untuk munculnya manusia-manusia kreatif.

0 komentar:
Posting Komentar