Minggu, 16 Desember 2012

Mengapa perlu Berpikir Kreatif?


                Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, seringkali menghasilkan pemikiran atau gagasan luar biasa, aneh, dan terkadang diangggap tidak rasional. Bahkan, karena keluarbiasaan itu, tidak sedikit orang kreatif dianggap “gila”. Kesamaan orang kreatif dengan orang gila adalah cara berpikirnya yang tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Sementara orang gila tidak.

                Berani menciptakan sesuatu yang tidak modis pada zamannya merupakan sesuatu yang salah. Vivienne Westwood dan Malcolm Mclaren membuka took pakaian bergaya tahun tiga puluhan. Ternyata tidak ada orang yang mau memakai atau membelinya. Namun semangat dan keberaniannya membuat Westwood menjadi desainer yang dikagumi dan McLaren mendirikan Sex Pistols.
                Saat George Eastman memilih nama ‘Kodak’ untuk perusahaan fotografinya, nama itu tidak ada artinya. Padahal member nama untuk produk serius tidak boleh sembarangan. Eastman tak tahu arti Kodak. Dia hanya ingin nama yang singkat agar orang tak salah eja dan tak diasosiasikan dengan yang lain.
                Woody Norris (1988) pengelola American Technology Corporation, mimpi membuat system audio yang tidak memerlukan speaker. Dia menganalogikan dunia seni lukis yang mencampur dua suata yang tidak terdengar. Awalnya ide ini gagal. Tujuh tahun kemudian, ia berhasil menciptakan system HyperSonic Sound (HSS) yang menerjemahkan suara dari CD ke gelombang-gelombang ultrasonic.
                John Vaught dari HP ,memakai analogi untuk menghasilkan printer inkjet  yang lebih efisien dan afektf. Pada tahun 1979, Vaught tertarik dengan cara kerja mesin pembuat koi otomatis. Sambil mengamati betapa cepatnya alat tersebut memanaskan air, ia berpikir apakah prinsip ini bisa di gunakan untuk memanaskan tinta printer. Ternyata bisa.
                Shouthwest Airlines belajar cara mengurangi waktu berhenti pesawatnya dengan melihat kegiatan tim balap mobil di pit stop. Motorola belajar dari Domino’s Pizza untuk mengurangi waktu produksinya. Banyak hal lagi contoh lain bagaimana benchmarking di industry yang berbeda mampu menghasilkan ide-ide kreatif yang jarang terpikirkan sebelumnya. Tentu saja, analogi yang paling sering di pakai adalah dengan meniru solusi dari alam.
                Bertrand Russel (Gilhooly, 1982) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif lebih bersifat instingtif, sama halnya dengan proses pencernaan. Ketika berhadapan dengan persoalan, ia mencari informasi yang relevan lalu persoalan tersebut ditinggalkannya untuk mengurus persoalan lain. Sejalan dengan bergulirnya waktu, dan dengan keberuntungan, dia menemukan jawaban atas persoalannya.
                Tidak sedikit para pemikir yang berpandangan sama dengan Russel. Namun tentu saja orang tak akan pernah berhenti untuk mencari keteraturan atau pola-pola yang mungkin dilalui seseorang dalam proses berpikir kreatif.  Diharapkan di kemudian hari keterampilan berpikir kreatif dapat di kembangkan secara rasional tanpa menunggu datangnya augerah untuk munculnya manusia-manusia kreatif.

0 komentar: