Buatku cinta itu belum cukup untuk membuatku
bahagia. Banyak orang berkomitmen hanya bermodalkan cinta, tapi apa
selanjutnya? Masalah demi masalah datang seperti mata rantai yang tak pernah
ada ujungnya. Contohnya kalo masih
pacaran semuanya pada mengumbar janji palsu, janji yang satu belum ditepatin eh
udah ketumpuk janji-janji yang lain. Parahnya lagi kalo udah married “Habis
manis sepah di BUANG” udah kayak barang
sekali pakai.
Mungkin menurut kalian cinta itu penting tapi
menurut ku cinta itu nomor dua, kenapa? Dua kali pacaran udah cukuplah
membuatku berpikir ulang tentang cinta. Kalo biasanya cewe itu identik dengan
sifatnya yang kalem, lemah lembut tapi aku justru sebaliknya keras kepala,
egois, suka ngambek, suka marah-marah, dan bukan tipe orang penyabar pokoknya
tempramental banget.
Aku pernah mencintai seseorang yang teramat
dalam, tapi aku gag tau gimana perasaan dia ke aku sebenernya yang penting dia
ada di sampingku. Aku gag pernah berfikir apa-apa selain dia orang yang paling
aku cinta. Sampai suatu saat hubungan kita udah gag bisa di pertahanin lagi,
semuanya berakhir. Aku sempat frustasi karena itu gimana enggak, orang yang
paling aku cinta udah pergi dan itu cukup membuatku hancur. Bodohnya aku yang
masih menangisi kepergiannya meskipun itu udah hampir setengah tahun berlalu.
Seiring berjalannya waktu kejadian itu
membuatku berfikir, “apa yang kutangisi dari dia?” logikaku berkata ‘gag ada
alasan untuk ku menangisinya’ tapi itu sangat berkebalikan dengan hatiku ‘tapi
aku mencintainya’ logikaku berkata lagi ‘apa cinta itu membuatku bahagia’ dan
hatiku menjawab ‘cinta itu membuakku sakit sesakit-sakitnya’ dan akhirnya
logikaku mengalahkan semuanya.
“Sebenernya apa yang aku cari?” sempat aku
berpikir lama untuk menjawab pertanyaan ku sendiri, dan aku menemukan
jawabannya. Aku gag butuh orang yang mengumbar cinta, meskipun aku cinta dia
untukku. Tapi aku butuh orang yang bisa mengertiku dan memahamiku tanpa aku
harus bilang. Aku mau dia mengenaliku dengan semua sifat ku yang sekeras batu
dan menerimaku dengan apa adanya. Bukan hanya saat mendekatiku saja dia bisa
memahamiku dan saat mendapatkanku, merubahku menjadi orang lain biar bisa dia
cintai. Aku mau dia mencintai ku dengan
apa adanya aku, dengan semua yang ada dalam diriku.
Karena itulah kenapa cinta jadi nomor dua
buatku, aku bodoh banget kalo hanya sekadar cinta. Semakin sering cowo mengumbar
janji itu berbanding lurus dengan dia lupa akan janjinya sendiri. Aku tidak
menyesal pernah mencintai seseorang yang teramat dalam, tapi yang kusesali
kenapa aku sebodoh bisa itu. Tuhan menciptakan kita secara berpasang-pasangan
yang saling melengkapi atau lebih tepatnya yang saling berkebalikan untuk bisa
menyeimbangkannya. Jadi karena aku sekeras batu aku butuh air untuk
menghancurkan batu yang ada dalam diriku.
Dari sebuah Hadist yang di riwayatkan oleh HR
Turmuzi tentang mencintai seseorang “cintailah kekasihmu dengan sederhana, bisa
jadi kelak kamu akan membencinya, bencilah orang yang kamu benci dengan
sederhana, bisa jadi kelak kamu akan mencintainya.”

0 komentar:
Posting Komentar