Jumat, 26 April 2013

Seandainya Aku Boleh Memilih

Kau tau gimana sakitnya ...
Aku juga punya perasaan sama sepertimu
Bahkan hatiku ini begitu peka seperti dirimu
Aku keras kepala, ya amat sangat keras kepala
Kau juga tak kalah keras kepalanya kan?

Jumat, 19 April 2013

CINTA itu nomor DUA

Buatku cinta itu belum cukup untuk membuatku bahagia. Banyak orang berkomitmen hanya bermodalkan cinta, tapi apa selanjutnya? Masalah demi masalah datang seperti mata rantai yang tak pernah ada ujungnya. Contohnya  kalo masih pacaran semuanya pada mengumbar janji palsu, janji yang satu belum ditepatin eh udah ketumpuk janji-janji yang lain. Parahnya lagi kalo udah married “Habis manis sepah di BUANG”  udah kayak barang sekali pakai.

Mungkin menurut kalian cinta itu penting tapi menurut ku cinta itu nomor dua, kenapa? Dua kali pacaran udah cukuplah membuatku berpikir ulang tentang cinta. Kalo biasanya cewe itu identik dengan sifatnya yang kalem, lemah lembut tapi aku justru sebaliknya keras kepala, egois, suka ngambek, suka marah-marah, dan bukan tipe orang penyabar pokoknya tempramental banget.
Aku pernah mencintai seseorang yang teramat dalam, tapi aku gag tau gimana perasaan dia ke aku sebenernya yang penting dia ada di sampingku. Aku gag pernah berfikir apa-apa selain dia orang yang paling aku cinta. Sampai suatu saat hubungan kita udah gag bisa di pertahanin lagi, semuanya berakhir. Aku sempat frustasi karena itu gimana enggak, orang yang paling aku cinta udah pergi dan itu cukup membuatku hancur. Bodohnya aku yang masih menangisi kepergiannya meskipun itu udah hampir setengah tahun berlalu.
Seiring berjalannya waktu kejadian itu membuatku berfikir, “apa yang kutangisi dari dia?” logikaku berkata ‘gag ada alasan untuk ku menangisinya’ tapi itu sangat berkebalikan dengan hatiku ‘tapi aku mencintainya’ logikaku berkata lagi ‘apa cinta itu membuatku bahagia’ dan hatiku menjawab ‘cinta itu membuakku sakit sesakit-sakitnya’ dan akhirnya logikaku mengalahkan semuanya.
“Sebenernya apa yang aku cari?” sempat aku berpikir lama untuk menjawab pertanyaan ku sendiri, dan aku menemukan jawabannya. Aku gag butuh orang yang mengumbar cinta, meskipun aku cinta dia untukku. Tapi aku butuh orang yang bisa mengertiku dan memahamiku tanpa aku harus bilang. Aku mau dia mengenaliku dengan semua sifat ku yang sekeras batu dan menerimaku dengan apa adanya. Bukan hanya saat mendekatiku saja dia bisa memahamiku dan saat mendapatkanku, merubahku menjadi orang lain biar bisa dia cintai. Aku mau dia  mencintai ku dengan apa adanya aku, dengan semua yang ada dalam diriku.
Karena itulah kenapa cinta jadi nomor dua buatku, aku bodoh banget kalo hanya sekadar cinta. Semakin sering cowo mengumbar janji itu berbanding lurus dengan dia lupa akan janjinya sendiri. Aku tidak menyesal pernah mencintai seseorang yang teramat dalam, tapi yang kusesali kenapa aku sebodoh bisa itu. Tuhan menciptakan kita secara berpasang-pasangan yang saling melengkapi atau lebih tepatnya yang saling berkebalikan untuk bisa menyeimbangkannya. Jadi karena aku sekeras batu aku butuh air untuk menghancurkan batu yang ada dalam diriku.

Dari sebuah Hadist yang di riwayatkan oleh HR Turmuzi tentang mencintai seseorang “cintailah kekasihmu dengan sederhana, bisa jadi kelak kamu akan membencinya, bencilah orang yang kamu benci dengan sederhana, bisa jadi kelak kamu akan mencintainya.”