Sabtu, 22 September 2012

English for Babies (Boso Nginggres Kanggo Bayek-Bayek)



           “Aneh deh, mendengar anak-anak tetangga berbicara dalam bahasa Indonesia,” kata Anto suatu hari. Di belakang rumah, setiap sore anak-anak tetangga bermain. Beberapa dari mereka bercakap dalam bahasa Indonesia. Itu yang dibilang aneh oleh Anto. Memang aneh sih, mengingat orang tua mereka adalah orang-orang Jawa yang bisa berbahasa Jawa.
Haha, Anto belum pernah menyaksikan yang lebih aneh. Di mal-mal Jakarta, anak-anak berlarian dan saling meneriakkan kata-kata dalam BAHASA INGGRIS!

“Hey, you, wait up.”

“Harry up, you slug.”

Itu memang kalimat saya sendiri, tapi intinya semacam itulah percakapan anak-anak seusia SD di Jakarta. Sampai-sampai saya bertanya-tanya, ini New York atau Kebon Kacang sih?

Saya sebagai “orang bahasa” pastinya ingin anak saya menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Sudah terbukti kok, banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menguasai bahasa asing. Selama ini saya hidup dari bahasa, mulai jadi guru bahasa Inggris hingga jadi penerjemah.

Justru karena saya bisa berbahasa Inggris, saya juga sangat ingin Angger menguasai bahasa ibunya, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Karena, sebaik apa pun bahasa Inggris Anda, bila Anda tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, Anda tidak akan bisa jadi penerjemah atau penyusun kamus. Anda nggak akan punya nilai lebih dibanding orang Inggris atau Amerika pada umumnya.

Kekayaan

Saya ingat omongan dosen tamu di kampus saya dulu yang berasal dari Amerika, “Saya sungguh iri dengan kalian. Kalian menguasai minimal tiga bahasa; bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.  Kami di Amerika begitu manja karena bahasa kami menjadi bahasa Internasional. Akibatnya kebanyakan kami tidak merasa perlu belajar bahasa lain. Padahal bahasa adalah kekayaan.“

Karena bahasa adalah kekayaan, maka semakin banyak bahasa yang Anda kuasai, makin kayalah Anda.

Apa benar? Jelas benar! Saya yang hanya bisa satu bahasa asing saja merasa begitu kaya kok. Minimal saya sudah bisa beli hape, laptop, sampai piknik ke luar negeri gara-gara kemampuan berbahasa Inggris. Coba deh saya juga bisa berbahasa Prancis atau Arab atau syukur-syukur Slovakia.

Serius deh. Bahasa “paling murah” adalah bahasa Inggris. Kalau Anda pergi ke agen penerjemahan, pasti harga untuk menerjemahkan dokumen ke dalam bahasa Inggris lebih murah daripada menerjemahkan, katakanlah, ke bahasa Jepang.

Oke, saya memang menafsirkan ‘kekayaan’ di sini dari segi yang sangat praktis dan materialistis. Meski sebetulnya ‘kekayaan’ yang dimaksud jauh melampaui itu. Ilmu, wawasan, dan pemahaman atas suatu budaya adalah kekayaan yang tidak dapat diukur.

Itulah yang menjadi keresahan Anto. Apa jadinya bila anak-anak Jawa kehilangan kejawaannya atau paling tidak kehilangan pemahaman atas budaya ibunya? Bagaimana mungkin mereka memahami keasyikan nonton wayang, keunggulan jamu jawa, atau kelucuan dagelan bila mereka tidak mengerti bahasa Jawa? Siapa yang rugi coba?

Melatih Angger

Untuk itulah, kami bertekad untuk membekali Angger dengan bahasa ibu kami. Angger harus bisa berbahasa Jawa, bahasa Jawa yang halus kalau bisa. Jadi kami bicara padanya dengan bahasa Jawa, kadang dengan bahasa Indonesia. Sesekali saja (jarang banget) pakai bahasa Inggris. Lagu-lagu yang kami nyanyikan untuknya juga terdiri dari tiga bahasa itu.

Tapi belum-belum, saya sudah putus asa dengan misi saya tadi. Gimana nggak? Suatu saat, saya mengamati tas bayi Angger yang saya gunakan bila kami bepergian dan saya melihat tulisan ini:

Hai baby

I am a squirel

The cute squirell

Don’t be afraid

I’m not naughty

Just jumping

Let’s jump together

          Ya ampuuuunnnn. Maksudnya apa sih? Ajaib banget. Lebih ajaib memang bila tulisan itu ada dalam bahasa Indonesia.

Halo bayi

Aku tupai loh

Tupai yang lucu

Jangan takut dong

Aku nggak nakal kok

Cuma lompat-lompat

Yuk, lompat-lompat bareng

Saya kadang berpikir dari mana orang-orang ini mendapatkan ide untuk menulis kata atau kalimat seaneh itu di baju, tas, atau sprei bayi (kadang baju orang dewasa juga sih). Di sinilah ‘lubang’ nya, karena ditulis dalam bahasa asing, kalimat yang aneh pun terasa wajar saja.

Sprei Angger misalnya ada yang bertuliskan Hey Hey Hey/ Flowers Flowers/Happy Happy. Maksudnya apa tuh?

Udah gitu, kadang gambar sama tulisannya nggak nyambung. Handuk Angger misalnya. Bertulisakan Funny Love Story dan bergambar gadis Jepang/Korea dengan dua konde di atas kepalanya lagi Jejingkrakan. Gadisnya yang jejingkrakan, bukan kondenya. Mana love story-nya nih?




Yang lebih aneh lagi adalah salah satu baju Angger yang bertuliskan,

Let’s make a cupcake.

Inggredients:

Flour

Egg

Butter

Sugar

Apa ada ya di Amrik sono baju bayi yang bertuliskan demikian?

Itu kan seperti baju anak kita bertuliskan:

Yo gawe gethuk.

Bahane:

Telo

Gula

Kambil.

Inilah ‘inisiasi’ bahasa asing yang mendahului bahasa ibu. Pakaian dan asesoris Angger tidak ada yang bertuliskan kata-kata bahasa Indonesia. Benda-benda itu kalau pun memiliki tulisan pasti dalam bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya, seperti bahasa Spanyol (La Fiesta) atau bahasa Jepang nggak jelas (semacam piyo-piyo, peto-peto).

Sekalinya niru bahasa Malaysia yang mirip bahasa Indonesia, eh salah. Tuh liat kausnya Ipin dan Upin di bantal peangnya Angger. Bukannya U dan I, tapi U dan U. Haduh, udah membajak, salah pula.



Hedew, Angger, Angger, pendidikan kayak apa yang kami berikan padamu.  

0 komentar: