“Aneh deh, mendengar anak-anak tetangga berbicara dalam bahasa Indonesia,” kata Anto suatu hari. Di belakang rumah, setiap sore anak-anak tetangga bermain. Beberapa dari mereka bercakap dalam bahasa Indonesia. Itu yang dibilang aneh oleh Anto. Memang aneh sih, mengingat orang tua mereka adalah orang-orang Jawa yang bisa berbahasa Jawa.
Haha, Anto belum pernah
menyaksikan yang lebih aneh. Di mal-mal Jakarta, anak-anak berlarian dan saling
meneriakkan kata-kata dalam BAHASA INGGRIS!
“Hey, you, wait up.”
“Harry up, you slug.”
Itu memang kalimat saya sendiri,
tapi intinya semacam itulah percakapan anak-anak seusia SD di Jakarta.
Sampai-sampai saya bertanya-tanya, ini New York atau Kebon Kacang sih?
Saya sebagai “orang bahasa”
pastinya ingin anak saya menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Sudah
terbukti kok, banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menguasai bahasa
asing. Selama ini saya hidup dari bahasa, mulai jadi guru bahasa Inggris hingga
jadi penerjemah.
Justru karena saya bisa berbahasa
Inggris, saya juga sangat ingin Angger menguasai bahasa ibunya, bahasa Jawa dan
bahasa Indonesia. Karena, sebaik apa pun bahasa Inggris Anda, bila Anda tidak
menguasai bahasa Indonesia dengan baik, Anda tidak akan bisa jadi penerjemah
atau penyusun kamus. Anda nggak akan punya nilai lebih dibanding orang Inggris
atau Amerika pada umumnya.
Kekayaan
Saya ingat omongan dosen tamu di
kampus saya dulu yang berasal dari Amerika, “Saya sungguh iri dengan kalian.
Kalian menguasai minimal tiga bahasa; bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan
bahasa Inggris. Kami di Amerika begitu manja karena bahasa kami menjadi
bahasa Internasional. Akibatnya kebanyakan kami tidak merasa perlu belajar
bahasa lain. Padahal bahasa adalah kekayaan.“
Karena bahasa adalah kekayaan,
maka semakin banyak bahasa yang Anda kuasai, makin kayalah Anda.
Apa benar? Jelas benar! Saya yang
hanya bisa satu bahasa asing saja merasa begitu kaya kok. Minimal saya sudah
bisa beli hape, laptop, sampai piknik ke luar negeri gara-gara kemampuan
berbahasa Inggris. Coba deh saya juga bisa berbahasa Prancis atau Arab atau
syukur-syukur Slovakia.
Serius deh. Bahasa “paling murah”
adalah bahasa Inggris. Kalau Anda pergi ke agen penerjemahan, pasti harga untuk
menerjemahkan dokumen ke dalam bahasa Inggris lebih murah daripada
menerjemahkan, katakanlah, ke bahasa Jepang.
Oke, saya memang menafsirkan
‘kekayaan’ di sini dari segi yang sangat praktis dan materialistis. Meski
sebetulnya ‘kekayaan’ yang dimaksud jauh melampaui itu. Ilmu, wawasan, dan
pemahaman atas suatu budaya adalah kekayaan yang tidak dapat diukur.
Itulah yang menjadi keresahan
Anto. Apa jadinya bila anak-anak Jawa kehilangan kejawaannya atau paling tidak
kehilangan pemahaman atas budaya ibunya? Bagaimana mungkin mereka memahami
keasyikan nonton wayang, keunggulan jamu jawa, atau kelucuan dagelan bila
mereka tidak mengerti bahasa Jawa? Siapa yang rugi coba?
Melatih Angger
Untuk itulah, kami bertekad untuk
membekali Angger dengan bahasa ibu kami. Angger harus bisa berbahasa Jawa,
bahasa Jawa yang halus kalau bisa. Jadi kami bicara padanya dengan bahasa Jawa,
kadang dengan bahasa Indonesia. Sesekali saja (jarang banget) pakai bahasa
Inggris. Lagu-lagu yang kami nyanyikan untuknya juga terdiri dari tiga bahasa
itu.
Tapi belum-belum, saya sudah
putus asa dengan misi saya tadi. Gimana nggak? Suatu saat, saya mengamati tas
bayi Angger yang saya gunakan bila kami bepergian dan saya melihat tulisan ini:
I am a squirel
The cute squirell
Don’t be afraid
I’m not naughty
Just jumping
Let’s jump together
Ya ampuuuunnnn. Maksudnya apa sih? Ajaib banget.
Lebih ajaib memang bila tulisan itu ada dalam bahasa Indonesia.
Halo bayi
Aku tupai loh
Tupai yang lucu
Jangan takut dong
Aku nggak nakal kok
Cuma lompat-lompat
Yuk, lompat-lompat bareng
Saya kadang berpikir dari mana
orang-orang ini mendapatkan ide untuk menulis kata atau kalimat seaneh itu di
baju, tas, atau sprei bayi (kadang baju orang dewasa juga sih). Di sinilah
‘lubang’ nya, karena ditulis dalam bahasa asing, kalimat yang aneh pun terasa
wajar saja.
Sprei Angger misalnya ada yang
bertuliskan Hey Hey Hey/ Flowers Flowers/Happy Happy. Maksudnya apa tuh?
Udah gitu, kadang gambar sama
tulisannya nggak nyambung. Handuk Angger misalnya. Bertulisakan Funny Love
Story dan bergambar gadis Jepang/Korea dengan dua konde di atas kepalanya lagi
Jejingkrakan. Gadisnya yang jejingkrakan, bukan kondenya. Mana love story-nya
nih?
Yang lebih aneh lagi adalah salah
satu baju Angger yang bertuliskan,
Let’s make a cupcake.
Inggredients:
Flour
Egg
Butter
Sugar
Apa ada ya di Amrik sono baju
bayi yang bertuliskan demikian?
Itu kan seperti baju anak kita bertuliskan:
Yo gawe gethuk.
Bahane:
Telo
Gula
Kambil.
Inilah ‘inisiasi’ bahasa asing
yang mendahului bahasa ibu. Pakaian dan asesoris Angger tidak ada yang
bertuliskan kata-kata bahasa Indonesia. Benda-benda itu kalau pun memiliki
tulisan pasti dalam bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya, seperti bahasa Spanyol
(La Fiesta) atau bahasa Jepang nggak jelas (semacam piyo-piyo, peto-peto).
Sekalinya niru bahasa Malaysia
yang mirip bahasa Indonesia, eh salah. Tuh liat kausnya Ipin dan Upin di bantal
peangnya Angger. Bukannya U dan I, tapi U dan U. Haduh, udah membajak, salah
pula.
Hedew, Angger, Angger, pendidikan
kayak apa yang kami berikan padamu.

0 komentar:
Posting Komentar